Senin, 29 Oktober 2012

Bentuk Interaksi dalam Transaksi antar Penjual dan Pembeli di Pasar Sapi Singkil Boyolali


A.    Judul
Bentuk Interaksi dalam Transaksi antar Penjual dan Pembeli di Pasar Sapi Singkil Boyolali

B.     Latar Belakang
Setiap manusia dalam kehidupan sosial akan membutuhkan dan berhubungan satu dengan yang lainya. Kemudian dari hal tersebut mereka akan berhubungan melalui kontak maupun komunikasi secara verbal dan non verbal. Komunikasi verbal yang dilakukan oleh manusia seperti para pelaku pasar termasuk penjual dan pembeli, dimana mereka melakukan komunikasi dengan menyampaikan pesan-pesan yang disampaikannya melalui tulisan ataupun lisan. Berbicara dan menulis, pada dasarnya bentuk komunikasi verbal yang sering dipergunakan dalam kegiatan seperti jual beli dan lain sebagainya. Sedangkan membaca dan mendengarkan, untuk mendapatkan informasi. Komunikasi yang dilakukan secara dua arah lebih membantu mereka dalam mendapatkan informasi secara sempurna. Selain itu komunikasi nonverbal sering kali tidak tersetruktur, hal itu dikarenakan komunikasi ini menggunakan berbagai isyarat-isyarat tubuh dalam penyampaian informasi atau pesan. Kontak dan Komunikasi adalah bagian dari interaksi sosial yang terdapat di kehidupan manusia.


Interaksi merupakan  hubungan-hubungan dinamis yang menyangkut hubungan antara individu dengan individu, antara individu dengan kelompok, atau antara kelompok dengan kelompok, baik berbentuk kerja sama, persaingan, ataupun pertikaian. Bentuk Interaksi terdapat dua macam yaitu assosiatif maupun disosiatif. Proses asosiatif merupakan suatu proses interaksi yang mempunyai kecenderungan untuk membuat masyarakat bersatu dan meningkatkan solidaritas di antara anggota kelompok seperti kerjasama, akomodasi, akulturasi serta asimilasi. Sedangkan proses disosiatif adalah suatu proses yang cenderung membawa anggota masyarakat ke arah perpecahan dan merenggangkan solidaritas di antara anggota-anggotanya seperti : pertikaian/perselisihan, konflik, asmilasi,akomodasi,kerjasama, persaingan dan kontravensi. Dalam kehidupan sehari-hari interaksi itu dapat berbagai macam kegiatan misalnya bekerja, belajar-mengajar, bersenda gurau bahkan jual beli antara penjual dan pembeli.
Pasar adalah tempat penjual dan pembeli bertemu, barang dan jasa tersedia untuk dijual dan akan terjadi pemindahan hak milik (Swastha, 1996: 50). Pertemuan penjual dan pembeli memungkinkan tejadinya interaksi sosial. Dalam kegiatan transaksi jual beli setiap individu baik penjual maupun pembeli akan melakukan hubungan sosial yang dipengaruhi oleh konteks sosial budaya yang berkembang dalam kehidupan masyarakat. Proses interaksi yang terjadi baik itu berupa kegiatan jual beli maupun kegiatan yang lain akan memunculkan bentuk-bentuk interaksi. Bentuk interaksi tersebut yaitu asosiatif maupun disosiatif, dimana asosiatif akan membentuk suatu persatuan yang akan menimbulkan hubungan-hubungan sosial yang membentuk jejaring sosial diantara mereka. Sedangkan disosiatif suatu bentuk interaksi yang akan menimbulkan perpecahan diantara pelaku pasar yang dapat memutuskan hubungan-hubungan yang telah terjalin baik dalam transaksi jual beli maupun kegiatan pasar yang lainnya.
Pasar Sapi Singkil Boyolali terletak di sebelah timur atau lingkar utara dari kota Boyolali. Pasar sapi ini salah satu pasar tradisional yang diramaikan pada hari tertentu sesuai dengan penanggalan jawa. Pasar yang ramai di setiap PAHING atau sesuai dengan penanggalan jawa ini, dipenuhi para pelaku pasar yang ingin beraktifitas dipasar. Mereka para pengunjung yang ingin melakukan jual beli atau hanya sekedar melihat hewan ternak yang diinginkan, mereka harus datang ke pasar ini. Lokasi pasar yang terjangkau oleh masyarakat serta luas pasar yang cukup luas dengan berbagai fasilitas. Selain terdapat berbagai tanah lapang yang dipergunakan untuk transaksi jual beli hewan ternak, pasar ini juga terdapat pula kompleks kios-kios yang menjual beraneka barang kebutuhan. Tak hanya itu saja sebuah peternakan sapi juga ditemui yang menjadikan aktifitas pasar masyarakat. Peternakan sapi digunakan untuk memenuhi kebutuhan gizi para warga di sekitar kota Boyolali, seperti susu, daging dan yang lainnya. Semua kegiatan yang berada di pasar tersebut menandakan bahwa pasar juga terdapat berbagai aktifitas masayarakat.
Para pengunjung pasar mempunyai kepentingan pribadi masing-masing, namun karena keadaan yang berada dipasar tersebut interaksi diantara mereka harus dilakukan. Interaksi diantara pelaku pasar di pasar sapi singkil Boyolali, memunculkan bentuk interaksi sosial. Kerjasama yang dibangun diantara pelaku pasar seperti adanya pesanan sapi seorang pedagang besar kepada belantik sapi atau makelar sapi, kemudian dia mencarikan sapi di Pasar Sapi Singkil Boyolali untuk memenuhi pesanan dari pemesan (http://fornaslpumkm.wordpress.com/). Hubungan antar pelaku bisnis sapi begitu erat hingga menciptakan jejaring ekonomi yang kuat. Jejaring pedagang-belantik-peternak, pedagang-belantik-penjagal, serta peternak-pengepul susu-pabrik susu. Jejaring ini juga melebar sampai ke pembeli.
Bentuk interaksi yang terjadi di Pasar Sapi Singkil Boyolali tidak hanya dalam bentuk kerjasama, namun terdapat pula sebuah konflik yang menghinggapi para pelaku pasar. Konflik yang terjadi di pasar tersebut yaitu adanya kecurangan atau kenakalan dari pedagang sapi yang menjual sapi dengan menggelonggongnya agar mendapatkan ukuran berat badan yang lebih untuk mendapatkan keuntungan tinggi. perbuatan mereka banyak merugikan masyarakat, karena para pembeli atau konsumen membeli satu ekor sapi mapun hanya menginginkan dagingnya saja merasa tertipu oleh tindakan para penjual sapi tersebut. Meski konflik yang terjadi antara penjual dan pembeli tidak berupa konflik fisik yang dapat mengakibatkan sebuah kerusuhan. Namun dari konflik yang terjadi tersebut menyebabkan lesun dan menurunya pemesanan sapi khsusnya yang terdapat di Pasar Sapi Singkil Boyolali.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, peneliti akan memfokuskan pada kajian mengenai “Bentuk Interaksi dalam Transaksi antara Penjual dan Pembeli di Pasar Sapi Singkil Boyolali”. Peneliti akan mengkaji mengenai berbagai macam bentuk interaksi yang terjadi dari adanya sebuah transaksi antara penjual dan pembeli. Dan dari interaksi tersebut mungkin akan terjalin kerjasama yang dapat menguatkan hubungan-hubungan sosial dari pelaku. Tetapi juga terdapat pula sebuah konflik antara penjual dan pembeli yang justru menimbulkan sebuah perselisihan bahkan perpecahan hubungan yang telah terjalin diantara mereka. Dan merugikan dari masing-masing pihak, kemudian melemahkan tingkat ekonomi.

C.     Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dijelaskan diatas, maka saya selaku peneliti ingin mengidentifikasi permasalahan mengenai berbagai masalah yang berkaitan dengan penelitian ini, yaitu sebagai berikut :
1.      Adanya transaksi jual beli antara penjual dan pembeli menyebabkan adanya berbagai bentuk interaksi yang timbul.
2.      Banyaknya bentuk interaksi yang dilakukan antara penjual dan pembeli mempengaruhi cara interaksi dalam jual beli.
3.      Kurangnya perhatian dalam interaksi antara pedagang dengan pembeli dalam hal bahasa mauoun yang lain.
4.      Dampak negative dari adanya interaksi antara pedagang dengan pembeli di Pasar Sapi Singkil Boyolali.
5.      Lemahnya perhatian pemerintah terhadap pedagang yang melakukan kecurangan. 

D.    Pembatasan Masalah
Sesuai dengan latar belakang dan identifikasi masalah diatas, terdapat permasalahan yang kompleks. Maka, masalah yang akan dibahas lebih lanjut perlu dibatasi guna lebih memfokuskan pada penelitian mengenai Bentuk Interaksi dalam Transaksi Jual-Beli antara Penjual dan Pembeli sapi di Pasar sapi Singkil Boyolali.

E.     Rumusan Masalah
Dari latarbelakang yang telah disamapaikan diatas mengenai judul penelitian “Bentuk Interaksi dalam Transaksi Jual-Beli antara Penjual dan Pembeli sapi di Pasar sapi Singkil Boyolali”, maka dapat ditemukan berbagai masalah yang dapat dijadikan rumusan masalah seabagai berikut :
1.      Bagaimana Bentuk Interaksi antara penjual dan Pembeli dalam transaksi antara penjual dan pembeli di pasar sapi singkil Boyolali ?
2.      Apa saja cara interaksi antara penjual dan pembeli dalam transaksi jual beli di pasar sapi singkil Boyolali ?

F.     Tujuan Penelitian
Dalam pelaksanaan penelitian ini tentunya peneliti mempunyai tjuan yang ingin dicapai dan terselesaikan yaitu sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui segala bentuk interaksi antara penjual dan Pembeli dalam transaksi jual beli sapi di pasar sapi singkil Boyolali.
2.      Untuk mengetahui berbagai jenis cara interaksi yang digunakan antara penjual dan pembeli dalam transaksi jual beli sapi di pasar sapi singkil Boyolali.

G.    Manfaat Penelitian
1.      Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dalam dunia pendidikan, khususnya dalam Karya tulis ilmiah dalam rangka mengembangkan khasanah ilmiah. Selain itu, penelitian ini juga dapat diharapkan menambah perbendaharaan berbagai istilah dan kegiatan dalam kegiatan jual beli terutama bidang Pragmatik. Dan hasil penelitian dapat digunakan sebagai pedoman dalam mengadakan penelitian selanjutnya yang lebih mendalam.
2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi Pembaca
1)      Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk referensi dan sumber informasi atau pengetahuaan  mengenai Bentuk Interaksi yang terjadi dalam Transaksi antara penjual dan pembeli khususnya di Pasar Sapi Singkil Boyolali.
b.      Bagi peneliti
1)      Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi peniliti untuk mengetahui berbagai bentuk interaksi yang dilakukan dalam transaksi jual beli antara penjual dan pembeli. Para masyarakat yang tak berseangkutan dalam kegiatan tersebut, dapat mengenal bentuk interaksi. Selanjutnya mereka dapat menggunakan kegiatan tersebut untuk melakukan kegiatan tersebut apabila suatu saat mereka melakukan aktifitas itu.
2)      Penelitian ini digunakan untuk mengukur kemampuan peneliti dalam menerapkan ilmu pengetahuan yang didapatkan dalam kegiatan perkuliahan dengan terjun langsung ke lapangan yakni ke masyarakat.

H.    Kajian Pustaka
1.      Kajian Pustaka
Penelitian yang membahas mengenai Bentuk Interaksi dalam Transaksi antara penjual dan pembeli di pasar sapi Boyolali.
a.      Interaksi
Menurut Soekanto, (2005: 64) bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial. Interaksi sosial merupakan hubungan antara orang-orang, perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorang dengan kelompok manusia. Apabila dua orang bertemu, interaksi sosial dimulai pada saat itu, mereka saling menegur, berjabat tangan, saling bicara atau bahkan mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat yaitu, adanya kontak sosial dan adanya komunikasi. kontak sosial dapat bersifat positif atau negatif. Yang bersifat positif mengarah pada suatu kerja sama, kontak sosial yang bersifat negatif pada suatu pertentangan atau bahkan sama sekali tidak menghasilkan interaksi sosial. Model interaksi antara penjual dan pembeli memiliki ciri-ciri berikut: (a). Memberi peluang pertukaran kata bersifat goal oriented, tetapi juga untuk mengembangkan hubungan interpersonal, (b). Hubungan bersifat interpersonal, tidak temporer, (c). Tawar menawar merupakan bagian tidak terpisahkan dalam interaksi   penjual dan pembeli. (d). Masing-masing pelaku dalam interaksi mengembangkan persuasi  verbal.
b.      Bentuk Interaksi
Menurut Gillin dan Gillin, ada dua macam proses sosial yang timbul akibat interaksi sosial, yaitu proses asosiatif dan proses disosiatif.
1)      Proses Asosiatif
Pada hakikatnya proses ini mempunyai kecenderungan untuk membuat masyarakat bersatu dan meningkatkan solidaritas di antara anggota kelompok. Kita mengenal empat bentuk proses asosiatif, yaitu kerja sama, akomodasi, asimilasi, dan akulturasi.
a)      Kerja Sama ( Cooperation )
Kerja sama merupakan bentuk interaksi sosial yang pokok. Kerja sama dilakukan oleh manusia dalam masyarakat dengan tujuan agar kepentingannya lebih mudah tercapai. Kerja sama merupakan suatu usaha bersama antarpribadi atau antarkelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama. Kerja sama dilakukan sejak manusia berinteraksi dengan sesamanya, yang dimulai dalam kehidupan keluarga lalu meningkat dalam lingkungan yang lebih luas, yaitu masyarakat. Kerja sama dalam masyarakat muncul karena adanya beberapa situasi tertentu seperti berikut ini.
1.      Adanya keadaan alam yang kurang bersahabat, seperti terjadinya bencana.
2.      Musuh bersama yang datang dari luar wilayah.
3.      Pekerjaan yang membutuhkan banyak tenaga kerja.
4.      Kegiatan keagamaan yang sakral.
Kita mengenal beberapa bentuk kerja sama dalam masyarakat, yaitu tawar menawar, kooptasi, koalisi, dan usaha patungan.
1.      Tawar menawar (bargaining) adalah perjanjian atau persetujuan antara pihak-pihak yang mengikat diri atau bersengketa melalui perdebatan, pemberian usul, dan lain-lain.
2.      Kooptasi (cooptation) adalah proses penerimaan unsur-unsur baru oleh pemimpin suatu organisasi sebagai salah satu usaha untuk menghindari terjadinya keguncangan atau kekacauan dalam sebuah organisasi.
3.      Koalisi (coalition) adalah kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan yang sama. Koalisi dapat menghasilkan keadaan yang tidak stabil untuk sementara waktu karena dua organisasi atau lebih tersebut kemungkinan mempunyai struktur yang tidak sama satu sama lain.
4.      Usaha patungan (join venture) adalah kerja sama dalam pengusahaan proyek-proyek tertentu, misalnya pengeboran minyak, pembangunan jembatan layang, pembangunan hotel, dan sebagainya.
b)     Akomodasi ( Accomodation )
Akomodasi adalah suatu bentuk proses sosial yang di dalamnya terdapat dua atau lebih individu atau kelompok yang berusaha untuk saling menyesuaikan diri, tidak saling mengganggu dengan cara mencegah, mengurangi, atau menghentikan ketegangan yang akan timbul atau yang sudah ada, sehingga tercapai kestabilan (keseimbangan). Lalu, Akomodasi bertujuan untuk berikut ini.
1.      Mengurangi pertentangan antara dua kelompok atau individu.
2.      Mencegah terjadinya suatu pertentangan secara temporer.
3.      Memungkinkan terjadinya kerja sama antarindividu atau kelompok sosial.
4.      Mengupayakan peleburan antara kelompok sosial yang berbeda (terpisah), misalnya lewat perkawinan campuran (amalgamasi).
Adapun bentuk-bentuk akomodasi adalah koersi, kompromi, arbitrasi, mediasi, konsiliasi, toleransi, stalemate, ajudikasi, rasionalisasi, gencatan senjata, segregation, dan dispasement .
1.      Koersi (coercion) adalah suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilakukan dengan paksaan. Artinya, ada pemaksaan kehendak oleh pihak tertentu terhadap pihak lain yang posisinya lebih rendah. Pelaksanaannya dapat dilakukan secara fisik maupun secara psikologis.
2.      Kompromi (compromise) adalah suatu bentuk akomodasi di mana pihak-pihak yang terlibat saling mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian perselisihan yang ada.
3.      Arbitrasi (arbitration) adalah suatu bentuk akomodasi yang menghadirkan pihak ketiga yang bersifat netral untuk mencapai suatu penyelesaian perselisihan.
4.      Mediasi (mediation) , hampir sama dengan arbitrasi, tetapi pada mediasi pihak ketiga yang netral yang berfungsi sebagai penengah tidak mempunyai wewenang untuk memberi keputusan-keputusan penyelesaian perselisihan di antara pihak-pihak yang berselisih.
5.      Konsiliasi (conciliation) adalah suatu usaha mempertemukan keinginan-keinginan pihak-pihak yang berselisih demi tercapainya suatu persetujuan bersama.
6.      Toleransi (tolerance) adalah suatu bentuk akomodasi tanpa persetujuan formal. Kadang-kadang toleransi timbul secara tidak sadar dan tanpa direncanakan sebelumnya.
7.      Stalemate adalah suatu bentuk akomodasi, di mana pihak-pihak yang bertentangan, karena mempunyai kekuatan seimbang, berhenti pada suatu titik tertentu dalam melakukan pertentangannya.
8.      Ajudikasi (adjudication) adalah penyelesaian perkara atau sengketa di pengadilan atau melalui jalur hukum.
9.      Rasionalisasi adalah pemberian keterangan atau alasan yang kedengarannya rasional untuk membenarkan tindakan-tindakan yang sebenarnya akan dapat menimbulkan konflik.
10.  Gencatan senjata (cease-fire) adalah penghentian sementara pertikaian karena ada satu hal yang mengharuskan pertikaian atau peperangan berhenti, misalnya pembersihan jenazah korban, adanya negosiasi perdamaian, dan sebagainya
11.  Segregation adalah upaya untuk saling memisahkan diri dan menghindar di antara pihak-pihak yang saling bertentangan dengan tujuan untuk mengurangi ketegangan.
12.  Dispasement adalah usaha mengakhiri konflik dengan mengalihkan pada objek masing-masing.
c)      Asimilasi
Asimilasi merupakan sebuah proses yang ditandai oleh adanya usaha-usaha untuk mengurangi perbedaanperbedaan yang terdapat di antara individu-individu atau kelompok individu.
Menurut Koentjaraningrat, proses asimilasi akan terjadi apabila berikut ini.
1.      Ada kelompok-kelompok yang berbeda kebudayaannya.
2.      Saling bergaul secara langsung dan intensif dalam waktu yang cukup lama.
3.      Kebudayaan dari kelompok-kelompok tersebut masing-masing mengalami perubahan dan saling menyesuaikan diri.
Ada beberapa faktor yang dapat mempermudah atau mendorong terjadinya asimilasi, di antaranya adalah sebagai berikut.
1.      Toleransi, keterbukaan, saling menghargai, dan menerima unsur-unsur kebudayaan lain.
2.      Kesempatan yang seimbang dalam bidang ekonomi yang dapat mengurangi adanya kecemburuan sosial.
3.      Sikap menghargai orang asing dengan kebudayaannya.
4.      Sikap terbuka dari golongan penguasa.
5.      Adanya perkawinan campur dari kelompok yang berbeda (amalgamasi).
6.      Adanya musuh dari luar yang harus dihadapi bersama.
Selain itu ada pula beberapa faktor yang dapat menghambat atau memperlambat terjadinya asimilasi, yaitu sebagai berikut.
1.      Perbedaan yang sangat mencolok, seperti perbedaan ras, teknologi, dan perbedaan ekonomi.
2.      Kurangnya pengetahuan terhadap kebenaran
3.      kebudayaan lain yang sedang dihadapi.
4.      Kecurigaan dan kecemburuan sosial terhadap kelompok lain.
5.      Perasaan primordial, sehingga merasa kebudayaan sendiri lebih baik dari kebudayaan bangsa atau kelompok lainnya.
d)     Akulturasi ( Acculturation )
Di era globalisasi sekarang ini yang ditandai dengan pesatnya arus informasi dan komunikasi antarnegara mengakibatkan batas antarnegara seolah-olah menjadi tidak ada. Berbagai pengaruh dari suatu negara dapat dengan mudah masuk ke negara lain. Selain itu berbagai kejadian atau peristiwa yang terjadi pada suatu negara dapat dengan cepat diketahui oleh negara lain. Dalam hal ini kita tidak dapat menutup diri terhadap berbagai pengaruh, terutama unsur-unsur kebudayaan yang berasal dari negara lain. Masuknya unsur-unsur kebudayaan asing itu salah satunya dapat menimbulkan suatu keadaan yang disebut akulturasi.
Akulturasi adalah suatu keadaan di mana unsur-unsur kebudayaan asing yang masuk lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan sendiri. Dalam akulturasi kita mengenal unsur-unsur kebudayaan yang mudah diterima dan unsur-unsur kebudayaan yang sulit diterima. Unsur-unsur kebudayaan yang mudah diterima dalam akulturasi di antaranya adalah sebagai berikut.
1.      Kebudayaan materiil, misalnya atap masjid Demak yang menggunakan model Meru seperti dalam agama Hindu.
2.      Kebudayaan yang mudah disesuaikan dengan kondisi setempat, misalnya kesenian, olahraga, dan hiburan.
3.      Kebudayaan yang pengaruhnya kecil, misalnya model pakaian, potongan rambut, bentuk rumah, model sepatu dan lain-lain.
4.      Teknologi ekonomi yang bermanfaat dan mudah dioperasionalkan, seperti traktor, mesin penghitung uang, komputerisasi di bidang akuntansi, dan lain sebagainya.
Sementara itu, unsur-unsur kebudayaan yang sulit untuk diterima dalam akulturasi adalah sebagai berikut.
1.      Unsur kebudayaan yang menyangkut kepercayaan, ideologi, falsafah atau religi suatu kelompok.
2.      Unsur-unsur yang dipelajari pada taraf pertama proses sosialisasi. Misalnya makanan pokok dan sopan santun kepada orang yang lebih tua.
2)      Proses Disosiatif
Proses disosiatif merupakan sebuah proses yang cenderung membawa anggota masyarakat ke arah perpecahan dan merenggangkan solidaritas di antara anggota-anggotanya.
Kita mengenal tiga bentuk proses disosiatif, yaitu persaingan, kontravensi, dan konflik.
a)      Persaingan ( Competition )
Persaingan merupakan suatu proses sosial di mana individu atau kelompok mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada masa tertentu menjadi pusat perhatian umum, tanpa menggunakan ancaman atau kekerasan. Persaingan harus dilaksanakan dengan berpedoman pada nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Hal-hal yang dapat menimbulkan terjadinya persaingan atau kompetisi antara lain sebagai berikut.
1.      Perbedaan pendapat mengenai hal yang sangat mendasar.
2.      Perselisihan paham yang mengusik harga diri dan kebanggaan masing-masing pihak yang ditonjolkan.
3.      Keinginan terhadap sesuatu yang jumlahnya sangat terbatas atau menjadi pusat perhatian umum.
4.      Perbedaan sistem nilai dan norma dari kelompok masyarakat.
5.      Perbedaan kepentingan politik kenegaraan, baik dalam negeri maupun luar negeri.
b)     Kontravensi ( Contravention )
Kontravensi adalah suatu proses komunikasi antarmanusia, di mana antara pihak yang satu dengan pihak yang lain sudah terdapat benih ketidaksesuaian, namun di antara pihak-pihak yang terlibat itu saling menyembunyikan sikap ketidaksesuaiannya. Namun apabila tidak saling berhadapan, benih-benih ketidaksesuaian itu ditampakkan secara jelas kepada pihak ketiga. Biasanya kontravensi dikatakan pula sebagai sebuah proses sosial yang berada di antara persaingan dan konflik.
Menurut Leopold Von Wiesse dan Howard Becker, proses kontravensi itu bertingkat-tingkat hingga semakin hebat dan hampir mendekati bentuk persaingan dan konflik. Tahukah kamu bagaimana tingkatan kontravensi itu?
Ada lima tingkatan kontravensi, yaitu general contravention, medial contravention, intensive contra vention, misterious contravention, dan tactical contravention.
1.      General contravention, contohnya penolakan, keengganan, perlawanan, tindakan menghalang-halangi, protes, gangguan-gangguan, perbuatan kekerasan, dan mengacaukan rencana pihak lain.
2.      Medial contravention, contohnya menyangkal pernyataan orang lain di muka umum, memaki-maki orang lain, mencerca, memfitnah dengan melemparkan beban pembuktian kepada pihak lain, dan seterusnya.
3.      Intensive contravention, contohnya menghasut, menyebarkan desas-desus, mengecewakan pihak lain, dan lain sebagainya.
4.      Misterious contravention, contohnya membuka rahasia pihak lain pada pihak ketiga, berkhianat, dan lainlain.
5.      Tactical contravention, contohnya mengejutkan lawan, mengganggu atau membingungkan pihak lawan secara sembunyi.
Kita mengenal tiga tipe kontravensi, yaitu kontravensi antargenerasi, kontravensi antarkelompok, dan kontravensi jenis kelamin.
1.      Kontravensi antargenerasi, misalnya perbedaan pendapat antara golongan tua dengan golongan muda mengenai masuknya unsur-unsur budaya asing.
2.      Kontravensi antarkelompok, misalnya perbedaan kepentingan antara golongan mayoritas dan golongan minoritas.
3.      Kontravensi jenis kelamin, misalnya perbedaan pendapat antara golongan pria dan perempuan tentang cuti hamil dan melahirkan.
c)      Konflik ( Conflict )
Istilah 'konflik' berasal dari kata Latin 'configere' yang berarti saling memukul. Dalam pengertian sosiologi, konflik dapat didefinisikan sebagai suatu proses sosial di mana dua orang atau kelompok berusaha menyingkirkan pihak lain dengan jalan menghancurkan atau membuatnya tidak berdaya.
Menurut Robert M.Z. Lawang, konflik adalah perjuangan untuk memperoleh hal-hal yang langka seperti nilai, status, kekuasaan, dan sebagainya, di mana tujuan mereka yang berkonflik itu tidak hanya untuk memperoleh keuntungan, tetapi juga untuk menundukkan pesaingnya. Konflik merupakan keadaan yang wajar dalam setiap masyarakat. Tidak ada orang atau masyarakat yang tidak pernah mengalami konflik dalam hidupnya.
1.      Sebab-Sebab Terjadinya Konflik
Hal-hal yang dapat menimbulkan terjadinya konflik antara lain sebagai berikut.
a)      Adanya perbedaan kepribadian di antara mereka yang terlibat konflik, akibat adanya perbedaan latar belakang kebudayaan.
b)      Adanya perbedaan pendirian atau perasaan antara individu yang satu dengan individu yang lain.
c)      Adanya perbedaan kepentingan individu atau kelompok di antara mereka.
d)     Adanya perubahan-perubahan sosial yang cepat dalam masyarakat karena adanya perubahan nilai atau sistem yang berlaku.
2.      Akibat Konflik
Konflik dapat mengakibatkan hal yang positif maupun hal yang negatif. Hal itu tergantung apa bentuk konflik itu dan dari mana kita memandangnya Secara umum konflik dapat menimbulkan akibat berikut ini.
a)      Bertambah kuatnya rasa solidaritas di antara sesama anggota kelompok. Hal ini biasanya dicapai apabila terjadi konflik antarkelompok dalam masyarakat.
b)      Hancur atau retaknya kesatuan kelompok. Hal ini biasanya muncul dari konflik yang terjadi di antara anggota dalam suatu kelompok.
c)      Adanya perubahan kepribadian individu.
d)     Hancurnya harta benda dan jatuhnya korban manusia.
3.      Cara Pemecahan Konflik
Selain cara-cara akomodasi yang telah kita bahas bersama di muka, masih ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk memecahkan atau menyelesaikan konflik, di antaranya elimination, subjugation atau domination, majority rule, minority consent, dan integrasi.
a)      Elimination, berarti pengunduran diri salah satu pihak yang terlibat dalam konflik antara lain,dengan ucapan 'kami mengalah', 'kami mundur', 'kami keluar', dan sebagainya.
b)     Subjugation atau domination, berarti orang atau pihak yang mempunyai kekuatan terbesar dapat memaksa orang atau pihak lain untuk menaatinya, terutama pihak yang lemah.
c)      Majority rule, berarti suara terbanyak yang ditentukan melalui pemungutan suara atau voting yang akan menentukan keputusan tanpa mempertimbangkan argumentasi.
d)     Minority consent, berarti ada kelompok mayoritas yang menang, namun kelompok minoritas tidak merasa dikalahkan dan menerima keputusan, serta sepakat untuk melakukan kegiatan bersama.
e)      Integrasi, berarti pendapat-pendapat yang bertentangan didiskusikan, dipertimbangkan, dan ditelaah kembali sampai kelompok yang saling bertentangan mencapai suatu keputusan yang memuaskan bagi semua pihak.
4.      Bentuk-Bentuk Konflik
Di dalam kehidupan masyarakat, terdapat beberapa bentuk konflik, yaitu konflik pribadi, politik, rasial, antarkelas sosial, dan konflik yang bersifat internasional.
a)      Konflik pribadi adalah konflik yang terjadi di antara individu karena masalah-masalah pribadi. Misalnya individu yang terlibat utang, atau masalah pembagian warisan dalam keluarga.
b)     Konflik politik adalah konflik antarpartai politik karena perbedaan ideologi, asas perjuangan, dan citacita politik. Misalnya bentrokan antarpartai politik pada saat kampanye.
c)      Konflik rasial adalah konflik yang terjadi di antara kelompok ras yang berbeda karena kepentingan dan kebudayaan yang saling bertabrakan. Misalnya konflik antarsuku yang terjadi di Timika, Papua.
d)     Konflik antarkelas sosial adalah konflik yang disebabkan munculnya perbedaan-perbedaan kepentingan, misalnya konflik antara buruh dengan majikan.
e)      Konflik yang bersifat internasional adalah konflik yang melibatkan beberapa kelompok negara (blok) karena perbedaan kepentingan masing-masing. Misalnya pertikaian negara Israel dan Lebanon yang melibatkan beberapa negara besar.

c.       Transaksi antara Penjual dan Pembeli
Jual beli secara etimologis artinya: Menukar harta dengan harta.(1) Secara terminologis artinya: Transaksi penukaran selain dengan fasilitas dan kenikmatan. Sengaja diberi pengecualian “fasilitas” dan “kenikmatan”, agar tidak termasuk di dalamnya pe-nyewaan dan menikah.
Jual beli adalah dua kata yang saling berlawanan Martina, namun masing-masing sering digunakan untuk arti kata yang lain secara bergantian. Oleh sebab itu, masing-masing dalam akad transaksi disebut sebagai pembeli dan penjual. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dua orang yang berjual beli memiliki hak untuk menentukan pilihan, sebelum mereka berpindah dari lokasi jual beli.” Akan tetapi bila disebutkan secara umum, yang terbetik dalam hak adalah bahwa kata penjual diperuntukkan kepada orang yang mengeluarkan barang dagangan. Sementara pembeli adalah orang yang mengeluarkan bayaran. Penjual adalah yang mengeluarkan barang miliknya. Sementara pembeli adalah orang yang menjadikan barang itu miliknya dengan kompensasi pembayaran.
2.      Kajian Teori
Penelitian ini terdapat pembahasan yang perlu menggunakan teori yang menguatkan dalam penilitian ini. Dengan demikian peneliti menggunakan teori yang sesuai yaitu Teori yang diberikan oleh George Herbert Mead yang mengemukakan bahwa dalam teori Interaksionisme Simbolik, ide dasarnya adalah sebuah symbol, karena symbol ini adalah suatu konsep mulia yang membedakan manusia dari binatang. Simbol ini muncul akibat dari kebutuhan setiap individu untuk berinteraksi dengan orang lain. Dan dalam proses berinteraksi tersebut pasti ada suatu tindakan atau perbuatan yang diawali dengan pemikiran. Dalam teorinya yang dinamakan Interaksionisme Simbolik ini, George Herbert Mead mengemukakan beberapa konsep yang mendasari teori yang ada, yaitu: Tindakan,Gestur,Simbol,Mind (Pikiran),Self (Diri),I and Me,Society (Masyarakat). pada dasarnya Teori Interasionisme Simbolik adalah sebuah teori yang mempunyai inti bahwa manusia bertindak berdasarkan atas makna, dimana makna tersebut didapatkan dari interaksi dengan orang lain, serta makna – makna itu terus berkembang dan disempurnakan pada saat interaksi itu berlangsung.
Penelitian ini juga menggunakan teori komunikasi yang dikemukakan oleh Darlmas Taylor (1973; Taylor & Altman, 1987) yang mengungkapkan bahwa dengan berkembangnya hubungan, keluasan dan kedalaman meningkat. Bila suatu hubungan menjadi rusak, keluasan dan kedalaman seringkali akan (tetapi tidak selalu) menurun, suatu proses yang dinamai penetrasi. Pada tahap awalnya, suatu hubungan biasanya ditandai dengan kesempitan (narrowness) – topik yang dibahas hanya sedikit dan kedangkalan (shallowness) – topik yang didiskusikan hanya dibahas secara dangkal. Jika pada permulaan hubungan topic-topik dibahas secara mendalam biasanya anda akan merasakan ketidaknyamanan. Bila pengungkapan diri yang bersifat intim dilakukan pada tahap awal hubungan, kita merasa ada yang janggal pada orang yang melakukannya.
3.      Penelitian Relevan
Penelitian yang dilakukan oleh peneliti relevan dengan berbagai penelitian oleh penelitian dari berbagai mahasiswa yang telah melaksanakan penelitian semacam ini. Seperti penelitian yang hampir sama mengenai judul penelitan ini yaitu
1.      Penelitian yang berjudul ” RAGAM BAHASA KOMUNIKASI JUAL BELI KAMBING DI PASAR TRADISIONAL KARANG PUCUNG KAB. CILACAP ” oleh Risdiyanto mahasiswa Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah (FKIP) UMP pada tahun 2010. Dari judul penelitian tersebut peneliti lebih memfokuskan pembahasan mengenai interaksi antara penjual dengan pembeli di pasar tradisional Karang Pucung Cilacap tersebut. skripsi yang penelitiannya telah dilaksankan tersebut membahas pada ragam bahasa dalam interaksi antara pedagang dengan pembeli. Keberagaman daerah menyebabkan perbedaan bahasa yang digunakan dalam berinteraksi antara pedagang dengan pembeli. Hal itu menyebabkan berbagai bentuk interaksi dintara mereka seperti melalui telepon seluler dalam berinteraksi dengan menggunakan bahasa nasional yaitu bahasai Indonesia.
2.      Penelitian yang dilakukan pada tahun 2011 yang berjudul “Bentuk Interaksi antar Pedagang Aksesori di Emperan Toko (PERKO) MALIOBORO” oleh Retnowati mahasiswa Pendidikan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan ekonomi(FISE) UNY. Penelitian ini membahas mengenai Bentuk interaksi yang terjadi antar  pedagang aksesori di Emperan toko (Perko) Malioboro Yogyakarta.penelitian ini lebih memfokuskan pada penelitiaannya tentang interaksi yang terbangun dari para pedagang aksesori yang berada di emperan toko sepanjang Malioboro. Penelitian yang  membahas mengenai bentuk interaksi yang terjadi dengan cara langsung dan tak langsung dikalangan pedagangan Emperan yang berada di toko sepanjang Malioboro.
3.      Penelitian yang berjudul “Interaksi Sosial dan Status Sosial Pedagang Di Pasar Legi Parakan Kabupaten Temanggung” oleh Wulan Suciani Mahasiswa Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ekonomi (FISE) UNY. Penelitian yang telah dilaksanakan ini membahas mengenai interaksi yang terjadi antara pedagang yang mempunyai status sosial yang yang tinggi (Pedagang besar) dengan pedagang kecil di Pasar Legi Parakan Kabupaten Temanggung .


4.      Kerangka Pikir


PASAR SAPI SINGKIL BOYOLALI

PEDAGANG DI PASAR SAPI SINGKIL BOYOLALI

PEMBELI DI PASAR SAPI SINGKIL BOYOLALI

INTERAKSI

ASOSIATIF

DISOSIATIF

KERJASAMA

AKOMODASI

PERSAINGAN

PERTENTANGAN

PERTENTANGAN PERTIKAIAN

 




















Kegiatan jual beli Sapi yang dilakukan antara penjual dan pembeli di pasar sapi Singkil Boyolali termasuk interaksi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Kegiatan tersebut merupakan salah satu interaksi yang tidak dapat dilepaskan dengan komunikasi maupun kontak baik itu secara langsung dan tak langsung. Dan bentuk interaksi tersebut dapat berupa kerjasama yang dapat menjadikan persatuan dan solidaritas dari anggota yang mennimbulkan suatu hubungan sosial yang mengarah pada jejaring sosial. Namun interaksi tersebut juga berujung pada perselisihan, konflik, maupun perpecahan yang memutuskan sendi-sendi jejaring sosial yang terjalin dari hubungan sosial yang telah dibangun oleh anggota-anggotanya.

I.       Metedologi Penelitian
1.      Lokasi Penelitian
Penelitian berkaitan dengan judul penelitian  ini akan dilaksanakan di Pasar Sapi Singkil Boyolali. Untuk mengetahui bentuk-bentuk interaksi yang terjadi dari transaksi antara pedagang dan pembeli di Pasar Sapi Singkil Boyolali. Peneliti menganmbil lokasi penelitian tersebut karena wilayah ini adalah lokasi tempat perdagangan hewan ternak yang terletak cukup dekat dengan pusat pemerintahan kota Boyolali.
2.      Waktu Penelitian
Waktu pelaksanaan penelitian akan dilaksanakan pada sekitar bulan Januari 2013 atau terhitung setelah proposal penelitian ini disetujui. Selain itu juga dikarenakan pasar ini tidak buka setiap hari dimungkinkan penelitian akan melaksanakan penelitian saat pasar ini buka sesuai dengan salah satu hari di penanggalan jawa yaitu Pahing.
3.      Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yaitu pengamatan, wawancara atau penelaah dokumentasi, yang menghasilkan data deskriptif berupa kata tertulis maupun lisa dri orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Menurut Williams, pemelitian kualitatif adalah pengumpulan data pada suatu latar alamiah, dengan menggunakan metode alamiah, dan dilakukan oleh orang atau peneliti yang tertarik secara alamiah. Selanjutnya penelitian kualtitaif dari definisi ahli lainnya dikemukakan bahwa penelitian ini memanfaatkan wawancara terbuka untuk menelaah dan memahami sikap, pandangan, perasaan dan perilaku individu atau sekelompok orang (Moleong,2011:4-5)  
4.      Sumber Data
a.       Data primer
Menurut S. Nasution data primer adalah data yang dapat diperoleh lansung dari lapangan atau tempat penelitian.Sedangkan menurut Lofland bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan. Kata-kata dan tindakan merupakan sumber data yang diperoleh dari lapangan dengan mengamati atau mewawancarai. Peneliti menggunakan data ini untuk mendapatkan informasi lansung dari penjual maupun pembeli mengenai bentuk interaksi dalam transaksi antara penjual dan pembeli sapi di Pasar Sapi Singkil Boyolali.
b.      Data sekunder
Sumber data sekunder, yaitu sumber data yang peneliti dapatkan dari referensi-referensi yang ada, seperti buku, jurnal, situs, dan lain sebagainya. Sumber ini akan mempermudah peneliti dalam mengolah data yang didapat dari lapangan, sehingga memeperlancar pengambilan kesimpulandari penelitian yang peneliti lakukan.
5.      Tehnik Pengumpulan Data
Penelitian ini yang paling utama adalah pengumpulan data-data dari hasil pengamatan yang didapatkan dari lapangan, dan menyusunnya agar kita memperoleh data yang akurat untuk memenuhi penelitian ini. Dala, penelitian menggunakan data secara lisan maupun tertulis sehingga dalam penelitian ini memiliki tehnik pengumpulan data, sebagai berikut :
a.       Observasi
Penelitian ini akan menggunakan pengumpulan data dengan observasi, dimana peneliti secara langsung mengamati ke lapangan atau lokasi penelitian yang telah menjadi objek penelitiaannya. Lokasi penelitian ini dilaksanakan tepatnya di Pasar Sapi Singkil Boyolali.
b.      Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memeberikan jawaban atas pertanyaan itu.(Lexy J. Moleong, 2005 : 186). Tehnik wawancara dilakukan dengan menyiapkan terlebih dahulu pertanyaan-pertanyaan penelitian atau pedoman wawancara yang sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti nantinya, dan yang akan ditanyakan pada informan.
c.       Dokumentasi
Dokumentasi dalam penelitian ini meliputi foto-foto, gambar-gambar, dan arsip-arsip yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti dan bahan dalam pengumpulan data untuk menjawab permasalahan penelitian.
6.      Tehnik Pengambilan Sampel
Penelitian kualitatif sangat erat kaitannya dengan faktor-faktor kontekstual. Jadi maksud pengambilan sampel adalah dengan perposive sampling yaitu pengambilan berdasarkan tujuan tertentu sesuai dengan yang dimaksud oleh peneliti (Arikunto,2005: 97). Pertimbangan pengambilan sampel pada sumber data tersebut karena tidak semua pengunjung di Pasar Sapi Singkil Boyolali memiliki cukup informasi masalah yang berkaitan dengan penelitian. Maka dari itu penentuan sampel tertuju pada pedagang maupun pembeli ditambah beberapa pengunjung yang layak menjadio narasumber dalam penelitian ini.
7.      Validitas Data
Validitas data dalam penelitian ini penting dilakukan agar data yang diperoleh di lapangan pada saat penelitian dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Dalam pemeriksaan keabsahan data ini penulis membagi dengan empat cara :
a.       Triangulasi
Triangulasi adalah tehnik pemeriksaan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu umtuk keperluan pengecekan atau suatu pembanding terhadap data itu. Tehnik triangulasi yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah triangulasi sumber dan triangulasi metode. Pertama, triangulasi sumber yaknimengumpulkan data sejenis dari beberapa sumber data yang berbeda. Kedua, triangulasi metode yaitu mengumpulkan data yang sejenis menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda. Dalam hal ini unutk memperoleh data, maka digunakan beberapa sumber dari hasil wawancara dan observasi.(J. Moleong, 2005:330-331)
b.      Perpanjangan Keikutsertaan
Perpanjangan Keikutsertaan berarti peneliti tinggal di lapangan penelitian sampai kejenuhan pengumpulan data tercapai. Dengan memperpanjang keikutsertaan peneliti akan banyak mempelajari kebudayaan dapat menguji ketidakbenaran informasi yang diperkenalkan oleh distorsi, baik yang berasal dari sendiri maupun dari responden, dan membangun kepercayaan subyek (J. Moleong, 2005: 327-328).
c.       Diskusi dengan Expert
Tehnik ini dilakukan dengan cara mendiskusiakn dengan expert dalam bentuk konsultasi atau diskusi nalitik sehingga kekurangan dari penelitian ini dapat segera diungkapkan dan diketahui. Expert(ahli) dalam penelitian ini.
d.      Peer Group Discussion
Tehnik ini dilakukan dengan cara mendiskusikan dengan rekan-rekan dalam bentuk diskusi analitik sehingga kekurangan dari penelitian ini dapatsegera diungkap dan diketahui agar pengertian mendalam dapat segera ditelaah. Melalui diskusi akan terjadi proses interaksi tukar menukar informasi antara penelitian dengan teman diskusi, sehingga peneliti akan memperoleh masukan positif terhadap penelitian yang dilakukan.
8.      Tehnik Analisis Data
Tehnik analisis data adalah proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diimplementasikan. Analisis data dilakukan dengan tujuan agar informasi yang dihimpun akan menjadi jelas dan eksplisit. Sesuai dengan penelitian inimaka tehnik analisis data yang digunakan untuk menganalisis data adalah analisis kulitatif model interaktif ser=bagaimna yang diajukan oleh Miles dan Hubberman yang terdiri dari empat hal utama (Miles dan Hubberman,1992: 15). Empat hal itu yakni
a.       Pengumpulan Data
Data ini diperoleh dari hasil observasi,wawancara dan dokumentasi dicatat dalam catatan lapangan yang terdiri dari dua aspek yakni deskripsi dan refleksi. Catatan deskripsi merupakan data alami yang berisi tentang apa yang dilihat, didengar, dirasakan, disasikan dan dialami sendiri oleh peneliti tanpa adanya pendapatdan penafsirandari penelitian mengenai fenomena yang dijumpai. Sedagkan catatan refleksi adalah catatan yang memuat kesan, komentar, dan tafsiran. Peneliti menganitemuan yang dijumapi dan merupakan bahan rencana pengumpulan data untuk thap selanjutnya. Untuk mendapatkan catatan ini maka peneliti melkukan wawancara dengan beberapa informan.
b.      Reduksi Data
Reduksi Data adalah suatu proses pemilih, pemusatan, perhatian pada langkah-langkah penyerderhanaan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan tertulis di lapangan. Cara mereduksi yakni dengan melakukan seleksi,membuat ringkasan atau uraian singkat, menggolongkan ke pola-pola dengan membuat transkip penelitian yang mempertegas, memperpendek membuat fokus, membuang bagian yang tidak penting, dan mengatur agar dapat ditarik kesimpulannya diakhir secara tepat secara tepat sesuai dengan permasalahan fokus utamanya.
c.       Penyajian Data
penyajian data dibatasi sebagai sekumpulan inforamsi yang tersusun dan memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data cenderung megarah pada penyederhanaan atas, kompleks ke dalam kestuan bentuk yang sederhana dan selektif sehingga mudah dipahami.
d.      Penarikan Kesimpulan.
Kesimpulan merupakan langkah terakhir dalam pembuatan laporan. Penarikan kesimpulan merupakan usaha mencari dan memahami makna, keteraturan pola-pola penjelasan, alur sebab akibat dan proposisi. Kesimpulan yang ditarik segera diverivikasi dengan cara melihat dan mempertanyakan pemahaman yang lebih tepat.. selain itu juga dapat. Dilakukan dengan mendiskusikannya. Hal ini dilkukan agar data yang diperoleh dan penafsiran yang dilakukan terhadap data tersebut memiliki validitas sehingga kesimpulan yang ditarik menjadi kuat dan signifikan.















Daftar Pustaka

Joko, Purwanto.2003.Komunikasi Bisnis. Jakarta: Erlangga.
Moloeng, Lexy .J. 2011. Metodelogi Penelitian Kualitatif.Bandung: Remaja Rodakarya.
Ritzer,george and Goodman, Douglas J. 2011. Teori Sosiologi Moder: Edisi Keenam. Jakarta:   Kencana Pernada Media Group.
Soerjono,Soekanto.2007.Sosiologi Suatu Pengantar.Jakarta:Raja Grafindo Persada.
Retnowati.2011.Bentuk Interaksi antar Pedagang Aksesori Di Emperan Toko(Perko) MALIOBORO Yogyakarta. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Risdiyanto.2010.Ragambahasa Transaksi Jual Beli di Pasar Tradisional. Purwokerto:Universitas Muhamaditah Purwokerto.
Wulan Suciani. Interaksi Sosial dan Status Sosial Pedagang Di Pasar Legi Parakan Kabupaten Temanggung.Yogyakarta : Universitas Negeri Yogyakarta.
http://alfinnitihardjo.ohlog.com/interaksi-sosial.oh112676.html. diakses pada 19 Juni 2012 pada pukul 16:13 WIB. Di Istiqomah kost.










Lampiran
Lampiran I
PEDOMAN OBSERVASI
Tanggal Observasi       :
Tempat                                    :
No.
Aspek yang diamati
Keterangan
1.
Kondisi fisik Pasar Sapi Singkil Boyolali

2.
Keadaan sosial antar pedagang dan pembeli

3.
Jenis barang dagangan pasar

4.
Bentuk Interaksi yang dilakukan antar pedagang dengan pembeli

5.
Penampilan para pengunjung (pembeli,pedagang dan lain sebagainya)


Lampiran II
PEDOMAN WAWANCARA
1.      Untuk pedagang di Pasar Sapi singkil Boyolali
Identitas Diri
a.       Nama               :
b.      Usia                 :
c.       Pendidikan       :
d.      Alamat             :
Daftar Pertanyaan
1.      Sejak kapan anda berjualan di Pasar Sapi Singkil Boyolali ?
2.      Kapan saja anda berjualan di Pasar Sapi Singkil Boyolali ?
3.      Bagaimana pendapat anda mengenai kegiatan di Pasar Sapi Singkil Boyolali ?
4.      Bahasa apa yang anda dunakan ketika anda berinteraksi dengan pembeli maupun pedagang atau pengunjung yang lain ?
5.      Apakah pernah terjadi sebuah persaingan, pertentangan hingga perselisihan antar pedagang yang lainnya ?
6.      Apakah pernah terjadi konflik antara pembeli yang datang ke Pasar Sapi Boyolali ?
7.      Bagaimana pegaruh ataupun dampak yang ditimbulkannya interaksi antar pembeli atau pengunjung lainnya ?
8.      Dari manakah anda mendapatkan pasokan hewan ternak yang akan anda jual ?
9.      Bagaimana strategi anda menjual dagangan anda tersebut ?
10.  Bagaimana jika dagangan anda tersebut tidak laku ?
11.  Seberapa dekatkah hubungan anda dengan pedagang yang lain atau pembeli ? 

2.      Untuk pembeli di Pasar sapi Singkil Boyolali
Identitas Diri
Nama                     :
Usia                       :
Pendidikan             :
Alamat                   :
Daftar Pertanyaan
1.      Kapan saja anda datang ke pasar ini untuk membeli hewan ternak ?
2.      Bagaimana hubungan anda dengan para pedagang di Pasar Sapi Singkil Boyolali ?
3.      Bagaimana strategi anda dalam membeli barang dagangan sepeti sapi, kambing ?
4.      Apakah anda pernah berkonflik dengan para pedagang di Pasar sapi Singkil Boyolali ?
5.      Apa bahasa yang anda gunakan ketika anda berinteraksi dengan para pedagang ?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar